150 Tahun Max Havelaar : Membuka Mata Dunia Lewat Tulisan

April 29, 2010

Tahun ini merupakan 150 tahun diterbitkannya buku Max Havelaar, salah satu karya sastra yang mempunyai pengaruh besar di dunia yang merupakan bacaan wajib siswa sekolah menengah di Belanda.

Max Havelaar adalah sebuah buku karangan Eduard Douwes Dekker, mempunyai nama pena Multatuli, yang ditulis pada tahun 1859 di Brussel, Belgia. Max Havelaar mempunyai judul asli ” Max Havelaar, of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy “ atau dalam bahasa Indonesia kira-kira mempunyai arti : Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda.

Buku ini ditulis oleh Eduard Douwes Dekker pada tahun 1859 di sebuah losmen di Brussel, Belgia, setelah perjalanannya selama beberapa tahun sebagai pejabat pemerintahan di Hindia-Belanda dan menemukan banyak ketimpangan yang terjadi akibat kolonialisme dan penindasan terhadap rakyat. Pada tahun 1860 untuk pertamakalinya buku tersebut diterbitkan. Eduard Douwes Dekker menggunakan nama pena Multatuli, merupakan bahasa Latin yang berarti : aku telah cukup menderita. Melalui buku tersebut Multatuli akhirnya membuka mata dunia, khususnya masyarakat Eropa kala itu, tentang dampak kolonialisme dan penjajahan yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa lain demi untuk memupuk keuntungan dengan perdagangan dan monopoli.

Buku ini merupakan rangkaian beberapa cerita (bundel) yang diantaranya berisi kisah tentang Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi dan contoh yang tepat tentang seorang borjuis kecil yang membosankan dan kikir, yang menjadi simbol bagaimana Belanda mengeruk keuntungan dari koloninya di Hindia-Belanda. Cerita yang lain diceritakan oleh Stern, Sjaalman dan Max Havelaar.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang kisah perjalanan Multatuli ketika menjabat sebagai asisten residen di Lebak, Rangkasbitung, karesidenan Banten yang digambarkan sebagai tokoh bernama Max Havelaar yang membela rakyat pribumi dari ketertindasan oleh kaum penjajah. Sejumlah kisah tentang rakyat pribumi juga dirangkaikan dalam buku ini, misalnya, kisah tentang Saidjah dan Adinda. Di antara kalimat-kalimat tentang kisah cinta yang mengharukan, tersirat tuduhan tentang eksploitasi dan kekejaman yang menjadikan orang-orang Jawa sebagai korbannya. Pada bagian akhir buku ini, Multatuli menyampaikan permintaan secara sungguh-sungguh langsung kepada Raja William III, yang dalam posisinya sebagai kepala negara, adalah yang paling bertanggung jawab untuk kesewenang-wenangan dan korupsi pemerintahan di Hindia Belanda.

Berikut ini adalah salah satu teks cerita dalam Max Havelaar

Op zekeren dag dat de opstandelingen op-nieuw waren geslagen, doolde hy rond in een dorp dat pas veroverd was door het nederlandse leger, en dus in brand stond. Saidjah wist dat de bende die daar vernietigd was geworden, grootendeels uit Bantammers had bestaan. Als een spook waarde hij rond in de huizen die nog niet geheel verbrand waren, en vond het lyk van Adinda’s vader met een klewang- bajonetwonde in de borst. Naast hem zag Saidjah de drie vermoorde broeders van Adinda, jongelingen, byna kinderen nog, en een weinig verder lag het lyk van Adinda, naakt, afschuwelijk mishandeld . . .

Buku Max Havelaar pada awalnya menerima banyak kritikan dari berbagai pihak, terutama pemerintah Belanda. Namun kemudian buku ini menjadi buku yang populer yang membuka mata dunia tentang nasib rakyat tertindas akibat kolonialisme dan penjajahan dan menjadi salah satu karya sastra dunia yang mempengaruhi gaya penulisan modern sehingga menjadi salah satu bacaan wajib bagi penduduk dunia dan telah diterjemahkan dalam 40 bahasa.

Walaupun Max Havelaar telah ditulis 150 tahun yang lalu, namun cita-cita dan pesan yang ingin disampaikan Eduard Douwes Dekker akan selalu menggema disetiap jaman.

Referensi :

1. http://nl.wikipedia.org/wiki/Max_Havelaar_%28boek%29

2. http://nl.wikipedia.org/wiki/Eduard_Douwes_Dekker

3. http://entoen.nu/maxhavelaar/id

4. Bahan ajar mata kuliah Sejarah Perkembangan Kesusastraan Belanda, Sastra Belanda, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

by Hasta

Hello world!

April 21, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.